Jakarta (wartalogistik.com) - Komunitas ikan tuna diantaranya Tuna Consortium (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) menyambut hari Perikanan Nasional dan Perikanan Sedunia (World Fisheries Day) 2025 yang diperingati setiap tanggal 21 Nopember, dengan makan ikan Tuna bersama, di Tuna House, Kelapa Gading Boulevard, pada Jumat (21/11). Harapannya ikan tuna menjadi makanan idola nasional karena kaya protein, Indonesia meningkat sebagai pemasok ikan tuna dunia, keberadaan Ikan terjaga dan nelayannya semakin sejahtera.
Harapan itu bukan tanpa alasan, mengingat sampai saat ini, ikan tuna dikonsumsi masih terbatas, padahal jumlahnya cukup melimpah dan kaya protein.
Pada hasil produksi tahunan, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), tren produksi ikan tuna di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Produksi tuna di Indonesia mencapai angka sekitar 320 ribu ton pada 2020 dan meningkat menjadi 340 ribu ton pada 2021.
Kandungan protein ikan tuna (per 100 gram). Tuna segar mentah: ± 23–25 gram protein. Tuna matang (dipanggang/ditumis): ± 25–29 gram protein. Tuna kaleng (dalam air): ± 22–26 gram protein. Tuna kaleng (dalam minyak): ± 25–29 gram protein (lebih tinggi karena lebih padat setelah ditiriskan).
Keunggulan protein tuna, termasuk protein lengkap (mengandung semua asam amino esensial). Rendah lemak pada beberapa jenis (tuna sirip kuning). Baik untuk otot, pemulihan jaringan, dan kesehatan tubuh secara umum.
Indonesia memiliki peluang besar memperkuat posisinya sebagai pemasok tuna berkelanjutan ke pasar premium dunia. Mengacu pada data KKP, nilai ekspor tuna Indonesia mencapai US$680 juta pada 2022, dan tren permintaan terhadap tuna yang ditangkap secara bertanggung jawab dan berkelanjutan tumbuh di atas 15% per tahun di pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa.
Khusus pasar Eropa dan Inggris, permintaan untuk tuna yang ditangkap dengan metode berkelanjutan huhate (pole and line, metode penangkapan tuna tradisional Indonesia) mencapai lebih 26.000 metrik ton (MT). Permintaan ini akan terus bertambah dan berpeluang besar dalam menguatkan perikanan huhate (pole and line) Indonesia menjadi salah satu kunci bagi industri untuk mempertahankan daya saing tersebut.
Pada peringatan World Fisheries Day ini, Tuna Consortium (TC) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) menegaskan kembali bahwa huhate—metode penangkapan tuna tradisional Indonesia menggunakan joran dan tali pancing—memiliki nilai strategis bukan hanya bagi keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga bagi perekonomian pesisir dan memberikan keunggulan kompetitif bagi industri tuna nasional.
Sebagai negara penghasil tuna terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menerapkan praktik penangkapan yang mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian sumber daya ikan.
Huhate merupakan tradisi perikanan Nusantara yang telah dijalankan selama puluhan tahun. Teknik ini dikenal efisien, selektif, minim bycatch (tangkapan sampingan), dan menghasilkan kualitas tuna yang tinggi sehingga berkontribusi langsung pada stabilitas populasi tuna.
Keunggulan metode memancing satu per satu (one by one) ini juga memperkuat nilai produk tuna Indonesia, membuka akses lebih luas ke pasar global, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok tuna berkelanjutan.
Thilma Komaling, Program Lead Indonesia Tuna Consortium, menyampaikan rasa senangnya ada ikan lokal yang proteinnya tinggi dan Indonesia menjadi salah satu negara pemasok ikan tuna terbesar tingkat dunia.
" Mari kita memanfaatkan Tuna untuk pangan . Harusnya Tuna meraja di dunia. Di Indonesia ada 20 persen kontribusinya," katanya dalam sambutannya sebelum makan bersama di Rumah Makan Ikan Tuna.
Disampaikan juga, pentingnya menjaga kelestarian tuna, melalui berbagai aspek. Misalnya melalui proses penangkapan. Masyarakat mempunyai budaya menangkap dengan sistem Huhate.
Huhate adalah teknik penangkapan ikan yang dilakukan dengan memancing satu per satu menggunakan joran, tali pancing, dan kail dengan umpan hidup atau umpan buatan. Nelayan menarik ikan yang terpancing langsung ke atas kapal, di mana mata kail dirancang untuk mudah terlepas saat ikan masuk.
Kapal pole & line dilengkapi beragam fasilitas pendukung, seperti bak penampung umpan hidup dengan sirkulasi air, sistem percikan air untuk menarik ikan berkumpul, dan tangki pendingin untuk menjaga kualitas hasil tangkapan. Teknik tradisional ini terbukti efisien, ramah lingkungan, dan mendukung keberlanjutan rantai pasok tuna Indonesia.
" Penangkapan dengan cara Huhate bukan hanya warisan budaya, tetapi juga aset ekonomi yang membuka peluang besar bagi masyarakat pesisir dan industri tuna nasional melalui pemenuhan standar keberlanjutan global yang kini menjadi syarat utama akses pasar,” ujar Thilma.
Ia menekankan bahwa metode ini mendorong terciptanya lapangan kerja yang berkelanjutan, meningkatkan pendapatan nelayan, serta memperkuat rantai pasok yang kredibel—faktor penting untuk memenuhi standar internasional yang semakin menuntut praktik perikanan berkelanjutan. Keberlanjutan tuna, lanjutnya, juga berarti menjaga laut tetap menjadi dapur protein bagi generasi sekarang dan mendatang.
Ketua Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) AP2HI, Abrizal Andrew Ang, menyampikan, kegiatan Makan Bersama Ikan Tuna ini, menjadi momen yang pas bersamaan dengan hari perikanan sedunia.
" Nelayan-nelayan tuna, merupakan pejuang senyap, yang perlu diterus disuport atas perjuangannya sehingga bisa berkembang," kata Abrizal.
Disampaikan juga, sebagian besar operasi pole & line dijalankan oleh unit usaha berskala kecil dan menengah yang mengandalkan tenaga kerja lokal, mulai dari nelayan, pengolah, hingga rantai distribusi. Oleh karena itu, setiap praktik penangkapan dengan huhate memberikan multiplier effect signifikan bagi ekonomi komunitas pesisir, mulai dari sektor penangkapan, pengolahan, hingga distribusi.
Selain berdampak pada lapangan kerja, produk tuna yang ditangkap dengan metode ini memiliki harga jual 15-30% lebih tinggi di pasar ekspor karena memenuhi standar keberlanjutan.
“Ketika kita mendukung huhate, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan stok tuna, tetapi juga memastikan ribuan keluarga nelayan memperoleh pendapatan stabil dan memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya,” ujarnya.
TC dan AP2HI menilai bahwa keberlanjutan ekonomi jangka panjang hanya dapat dicapai melalui praktik penangkapan yang bertanggung jawab dan ramah lingkungan. Dengan mempromosikan pole & line yang berbasis sains, ramah lingkungan, dan terbukti selektif, Indonesia dapat terus memperkuat reputasinya sebagai pemasok tuna berkelanjutan, sekaligus meningkatkan daya tawar produk di pasar domestik dan global. Pendekatan ini berkontribusi pada ketahanan pangan nasional dan memperkuat posisi Indonesia di industri perikanan bernilai tinggi.
Tuna Consortium Indonesis merupakan kolaborasi antara Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Yayasan IPNLF Indonesia (YII), Fair Trade USA, Marine Change, dan Resonance yang berfokus pada keberlanjutan perikanan tuna melalui penyediaan data, riset, dan program pemberdayaan.
AP2HI Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI) sebagai asosiasi perikanan pole & line dan handline Indonesia terus berkomitmen memajukan industri tuna nasional melalui praktik penangkapan yang bertanggung jawab, menjaga keberlanjutan sumber daya ikan, serta memastikan nilai ekonomi yang optimal bagi masyarakat pesisir.
( Abu Bakar)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar