Kepala BP2TL Jakarta, Heru Widada menyampaikan laporan kegiatan wisuda.
Kepala BPSDM Perhubungan, Djarot Tri Wardhono menyampaikan sambutannya saat menjadi Inspektur Upacara pada Upacara Wisuda Peserta Diklat Pelaut di BP2TL Jakarta.
Jakarta (wartalogistik.com) – Jumlah pelaut pelayaran niaga nasional kembali bertambah, saat Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP), Djarot Tri Wardhono mewisuda sebanyak 364 orang dari berbagai tingkatan keahlian di Kampus Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL) Jakarta, Rabu (17/12).
Para wisudawan terdiri atas ; Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat III Nautika: 63 orang. Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat III Teknika: 69 orang. Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat IV Nautika: 50 orang. Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat IV Teknika: 38 orang. Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat V Nautika: 52 orang. Diklat Pelaut Peningkatan Tingkat V Teknika: 14 orang.
Selain itu juga berlangsung penutupan Diklat Kesyahbandaran Pelabuhan Perikanan yang pesertanya 78 orang.
Dalam sambutannya, Kepala BPSDMP Perhubungan menyampaikan bahwa kegiatan wisuda ini menjadi momen penting dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) maritim nasional. Pelantikan perwira pelayaran sekaligus penutupan Diklat Syahbandar Pelabuhan Perikanan mengusung tema Transformasi Pelaut Masa Depan dan SDM Bidang Kelautan dan Perikanan dengan Pondasi Mental Health serta Penguatan Kompetensi Unggul.
"Indonesia merupakan negara maritim yang berdaulat. Fakta historis, geografis, dan yuridis menunjukkan bahwa laut adalah pemersatu bangsa sekaligus penopang kedaulatan nasional. Pengakuan internasional melalui UNCLOS 1982 menegaskan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan hak dan tanggung jawab besar dalam mengelola wilayah laut, sumber daya alam, serta menjaga keselamatan pelayaran," papar Djarot Tri Wardhono.
Namun demikian, tambah Djarot, kedaulatan maritim tidak hanya diukur dari luas wilayah laut, melainkan dari kemampuan negara dalam mengelola dan memanfaatkannya secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa pelaut masa depan tidak cukup hanya unggul secara teknis, tetapi juga harus adaptif terhadap perkembangan industri maritim global, seperti digitalisasi kapal, smart port, green shipping, serta peningkatan standar International Maritime Organization (IMO). Transformasi tersebut harus ditopang oleh disiplin, komitmen, dan karakter yang kuat.
Selain kompetensi teknis, aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian utama. Tekanan kerja tinggi, isolasi geografis, serta risiko di sektor maritim menuntut perwira pelayaran dan petugas syahbandar memiliki stabilitas emosional, mampu mengelola stres, serta menciptakan lingkungan kerja yang aman dan manusiawi.
Sinerji Strategis BP2TL - KKP
Kegiatan diklat ini juga dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara Kementerian Perhubungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun SDM maritim yang unggul dan berdaya saing global. Para lulusan diharapkan terus meningkatkan kompetensi dan memperbarui keahlian seiring cepatnya perubahan dunia maritim.
Pada kesempatan tersebut, Kepala BPSDMP Perhubungan mengucapkan selamat kepada seluruh perwira pelayaran yang dilantik serta peserta Diklat Syahbandar Pelabuhan Perikanan yang telah menyelesaikan pendidikan dengan baik. Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh dapat menjadi bekal dalam menjalani dunia kerja dan mengabdi bagi bangsa dan negara.
Kepala BP2TL Jakarta, Haru Widada dalam laporannya menyampaikan, tujuan diklat menghasilkan SDM pelaut niaga yang memiliki kompetensi dan keterampilan sesuai amanat STCW Convention 1978 beserta amendemennya, serta mampu bersaing di tingkat global.
Wisudawan menjalani Diklat pada periode bulan Juni sampai dengan Desember tahun ini
" Seluruh materi dan mata uji telah sesuai dengan standar kompetensi STCW Code 1978, sehingga lulusan diharapkan mampu menjalankan fungsi operasional di atas kapal secara profesional," tutup Heru Widada dalam laporannya.
Masih dalam rangkaian upacara pelepasan diklat, BP2TL Jakarta juga menyalurkan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) berupa 25 unit life jacket dan 3 unit kursi roda kepada Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung keselamatan dan pelayanan transportasi laut, khususnya bagi kru dan awak kapal yang bertugas di wilayah perairan DKI Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.
(Abu Bakar)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar