Kelurahan Tanjung Priok Ciptakan Lokasi Urban Farming dan Andalkan maggot Pengolah Sampah Organik - WARTA LOGISTIK | CERDAS & INFORMATIF

Post Top Ad

Responsive Ads Here
Kelurahan Tanjung Priok Ciptakan Lokasi Urban Farming  dan Andalkan maggot  Pengolah Sampah Organik

Kelurahan Tanjung Priok Ciptakan Lokasi Urban Farming dan Andalkan maggot Pengolah Sampah Organik

Share This

 




Salah satu sudut gang yang jadi urban farming.



Salah satu urban farming di RW 04

Sosialisasi lingkungan dan penilaian gotong royong warga di RW 05


Jakarta - Kelurahan Tanjung Priok berhasil membangun 7 lokasi urban farming (pertanian kota) di tengah lingkungan padat dan pengolahan sampah organik dengan maggot dan komposting.


Kawasan kelurahan yang berbatasan dengan Pelabuhan Tanjung Priok itu memiliki 16 RW dan terbagi dalam dua kampung, yakni Kampung Bahari dan Muara Bahari. 


Sebagai kawasan padat dan masih menyandang citra "miring", namun perangkat kelurahan dan masyarakat mampu beriringan membangun lingkungan hijau dan ramah lingkungan.


Bersama warga dalam berbagai kegiatan lingkungan.


Urban farming itu berada di kawasan RW 04, RW 05 (vertikal farming),  RW 07, RW 11, RW 13, RW 14, RW 15. Di dalam lingkungan urban farming yang utamanya terdapat tanaman kangkung, bayam dan lainnya juga terdapat tanaman buah, seperti pare, anggur, pepaya, labuh.


Atas terciptanya urban farming, Lurah Tanjung Priok, Teguh Subroto menyatakan,  sebagai upaya memberdayakan potensi lahan lingkungan untuk mendukung masyarakat berkegiatan positip.


" Disini ada lahan yang bisa dimanfaat untuk menanam,  ada kader lingkungan dan warga yang aktip dalam berkegiatan. Jadi kami tinggal  memfasilitasi bentuk kegiatan. Bentuk kegiatan yang paling sederhana adalah membuat urban farming," kata Teguh Subroto, pada hari Minggu (28/1) ketika berlangsung penilaian kegiatan gotong royong  kebersihan tingkat Jakarta Utara di wilayah RW 05.

Budi daya maggot menjadi salah satu upaya mengatasi sampah.


Keberadaan urban farming tentunya melalui proses dan membutuhkan waktu. Dimulai pada awal tahun 2022, dari satu lokasi di lingkungan RW 07, kemudian secara bertahap dibuat ke sejumlah lingkungan RW lainnya.


Selain menciptakan lingkungan hijau, kegiatan lainnya yang juga dilakukan berusaha mengatasi masalah sampah. Melalui Bank Sampai Unit (BSU)  di setiap RW upaya yang dilakukan dengan menjadikan sampah organik dimusnahkan dengan komposting dan  maggot.


Awalnya pengolahan sampah non organik dengan maggot dilakukan dengan menyosialisasikan proses pengadaannya.


Setelah masyarakat paham baru dilakukan budi daya. Hasilnya sudah ada budi daya maggot di tiga RW, yakni RW 003, RW 04, RW 05 dan di kantor kelurahan.


" Harapannya sampah organik sebagiannya bisa diolah, dengan  komposting yang sudah berlangsung lama dan maggot yang masih tahap awal, sehingga mengurangi sampah organik yang dibuang ke TPA," jelas Teguh Subroto.


LMK RW 07, Evo Yuliani di kawasan urban farming di lingkungannya.


Adanya lokasi urban farming bagi Lembaga Musyawarah Kota (LMK) RW 07, Evo Yuliani mengakui  sangat bermanfaat buat lingkungan dan masyarakat. Lingkungan jadi produktif dan masyarakat dapat berkegiatan positip terbantu dari hasil tanamannya.


" Hal itu bisa tercipta karena, warga berkegiatan positip dan hasil panen dari tanaman yang ada di lahan urban farming, bisa berbagai ke warga, " jelas Evo.


Hal senada juga disampaikan LMK RW 05, Robiah Adawiyah yang menyatakan, dengan adanya vertikal farming masyarakat dapat memanfaatkan lahan yang terbatas untuk membudidayakan tanaman yang nanti hasilnya dapat dimanfaatkan untuk masyarakat itu sendiri. 


"Baik itu sayuran, buah buahan yg hasil panennya dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat juga," kata Robiah.


(Abu Bakar)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here