Carmelita Hartoto : Untuk Berdayakan Industri Pelayaran Nasional, Ciplak Saja Bagaimana Negara Lain Memberdayakan Industri Pelayarannya - WARTA LOGISTIK | CERDAS & INFORMATIF

Post Top Ad

Responsive Ads Here
Carmelita Hartoto : Untuk Berdayakan Industri Pelayaran Nasional, Ciplak Saja Bagaimana Negara Lain Memberdayakan Industri Pelayarannya

Carmelita Hartoto : Untuk Berdayakan Industri Pelayaran Nasional, Ciplak Saja Bagaimana Negara Lain Memberdayakan Industri Pelayarannya

Share This

 




Jakarta (wartalogistik.com) -  Perusahaan pelayaran nasional sangat bisa berkembang pesat. Selain karena karena potensi muatan sangat besar di dalam negeri, yang penting bagaimana pemerintah Indonesia membuat kebijakan yang mendukung dan melindungi kegiatan usaha pelayaran nasional, sebagaimana negara-negara lainnya yang maju perusahaan pelayarannya memperlakukan atau mendukung dan melindungi usaha pelayarannya



"Coba perhatikan deh, bagaimana negara-negara di luar negeri mendukung usaha pelayaran di dalam negerinya. Kita (pemerintah) menyiplak aja deh," kata Ketua Umum DPP Indonesia National Shipowners' Association (INSA) Carmelita Hartoto,  seusai membuka  kegiatan opening  Indonesia Maritime Expo  (IME) yang berlangsung di J-EXPO Kemayoran Jakarta, Selasa (17/10).


Apa yang disampaikan Carmelita Hartoto terkait, bagaimana pemerintah Indonesia mendukung pelayaran nasional selama ini.  Hal itu terlihat dimulai dari adanya penerapan azas cabotage yang dimulai dengan hadirnya Inpres No 5 Tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional. Inpres itu mengamanatkan kepada 12 kementerian dan para gubernur sampai bupati untuk membuat kebijakan memberdayakan pelayaran nasional.


" Kemudian diperkuat dengan terbitnya UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, yang melarang kapal-kapal bendera asing untuk melakukan kegiatan operasional angkutan laut dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya di Indonesia," jelas Carmelita.


Saat itu, sambungnya Carmelita, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, memulai azas azas Cabotage sampai hari ini.


"Untuk penerapan azas Cabotage harus tetap dipertahankan. Jangan penerapannya dihentikan sehingga pelayaran asing kembali beroperasi untuk layanan domestik di Indonesia," tegas Carmelita.


Sukes penerapan azas cabotage bisa terlihat dari pertumbuhan kepemilikan kapal yang pada tahun 2005 sekitar  3000 unit berbendera Indonesia menjadi 30 ribu unit lebih di 2023.


Selain penerapan azas cabotage, tambah Carmelita, sebenarnya masih banyak yang diperlukan, namun belum diberikan atau dilakukan oleh pemerintah Indonesia, seperti insentif fiskal dan monoter. Padahal negara-negara di luar negeri sudah puluhan tahun memberikan dukung insentip tersebut ke perusahaan pelayaran nasional.


" Untuk itu kalo mau memberdayakan industri pelayaran nasional jiplak saja bagaimana negara-negara di luar negeri mendukung pelayaran nasionalnya," kata Carmelita mengulanginya.


Carmelita juga mengingatkan pemerintah untuk tidak  membuka  ruang investasi di sektor  pelayaran nasional 100 persen. cukup sebagaimana yang sudah ditetapkan sebanyak 49 persen dan pelayaran nasional (merah putih) 51 persen. 


Kendati demikian bukan berarti pelayaran nasional anti investasi asing. Namun akan lebih baik memberdayakan pelayaran nasional dengan insentif sebagaimana pelayaran-pelayaran di luar negeri mendapat dukungan dari pemerintahnya.


" Pelayaran nasional bisa berkembang, dan mampu mengembangkan usahanya. Pelayaran Indonesia telah seratus langkah maju sejak 2005, namun kerja keras itu akan berakhir sia-sia jika kita melakukan penyesuaian atas apa yang sudah baik. Kami kuatir, Indonesia akan semakin tertinggal jauh dari Amerika, Tiongkok, Australia, Filipina dan Jepang, yang telah lebih dulu dan hingga kini konsisten menerapkan asas cabotage,” ujarnya.


Namun begitu Carmelita pun mengapresiasi atas adanya dukungan pemerintah saat ini, seperti dengan adanya insentip pada perusahaan pelayaran dengan adanya proyek tol laut.


"Namun dukungan pemerintah pada bagian lain ke perusahaan pelayaran tetap dibutuhkan agar pelayaran nasional bisa berkembang sama dengan pelayaran lainnya di luar negeri," tutup Carmelita.



(Abu Bakar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here